Semenjak SD saya selalu menjawab insinyur apabila ditanya cita-cita sama orang lain. Setelah jadi insinyur muncul kebingungan harus ngapain lagi nih? Sehingga sambil menunggu jawaban dari pertanyaan saya ini, saya stay di kampus, membantu riset dan proyek. Saking lamanya saya mencari jawaban ini, sempet-sempetnya saya melanjutkan kuliah S2, dimana sampai artikel ini ditulis saya masih berkutat dengan revisi draft tesis.
Ternyata semua tentang hidup, bekerja, dan mencari kenyamanan. Bagi saya, kenyamanan adalah hal utama. Hal ini terbukti dengan malasnya saya mencari kerja di luar kota. Pengennya kerja di Bandung, meskipun kota ini sudah tidak sehat lagi seperti dulu. Di sisi lain, kerja saya di kampus sudah mencapai tahap terlalu nyaman, dimana mental ini dihibernasi secara maksimal oleh jam kerja yang fleksibel, komputer khusus game yang tersedia serta akses internet yang gratis.
Kuliah S2 menyadarkan saya kalau mental ini adalah hal yang sangat penting dalam mencapai kenyamanan masa depan. Mental ini yang harus diperbaiki untuk menentukan masa depan, serta menyongsong semua kesempatan. Mental ini pula yang membuat manusia dapat berdiri sendiri, tanpa menggantungkan hidupanya pada orang lain. Mental ini yang ingin saya dapatkan.
So, dengan tekad mantap dan menyerahkan rejeki kepada Yang Mengatur, saya ucapkan selamat tinggal kepada mental lembek, selamat datang terpaan hidup, bimbing aku menjadi manusia mandiri..
–dikala masih menyelesaikan draft tesis dan menyongsong sidang berikutnya yang tak kunjung datang–